Sebenarnya, kita dibutakan oleh sebuah harapan
Harapan yang kita harapkan dari orang lain untuk mengharapkan kita
Kita masih berfikir, siapakah yang lebih berharap
Karena, tidak perlu orang merasa mengharapkan yang diharapkan
Terlalu dalam harapan itu, akan membuat kita merasa tak nyaman sendiri
Sedikit sekali harapan dari beberapa orang yang terwujud
Syukur-syukur apabila terwujud
Janganlah jadikan beban apabila benar-benar tak bisa diwujudkan
Masih ada harapan lain
Jikalau, seseorang mengharap, belum tentu dia berharap
Artinya, dia hanya menginkan, tidak ingin mewujudkan, dan tidak ingin orang lain mengetahuinya
Padahal, orang yang diharapkannya, sangat berharap
Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya bersalah?
Aku baru belajar sesuatu
Intinya, orang yang menyukaimu, belum tentu dia mengharapkanmu
Tapi aku tak mengerti, apakah dia hanya mengagumimu, tanpa ingin memilikimu
Jujur saja, dalam keadaan ini, aku merasa telinga lebar
Maafkan aku, apabila aku terlalu berharap
Karena ku kira, kamu mengharapkan aku
Seandainya saja, kamu benar-benar mengharapkanku
Mungkin, aku bisa mewujudkannya, apabila kamu tidak terlambat
Sebelum aku memenuhi harapan orang lain
Yang lebih mengingkanku
Dan yang lebih menyayangiku
Semoga harapanmu ini, harapanmu yang semu ini, hanya terjadi sekali, padaku
Jangankan kau berikan harapan palsu ini, terhadap orang yang kau cintai dan yang mencintaimu
Aku hanya tak ingin, dia mengalami seperti yang aku alami
Aku sangat berharap, kau menemukan orang yang sejati, kau takkan ragu untuk memilihnya
Good Luck :)
#thanks for anything else that you make me so intersting, and then, you not interest to me anymore, i hope you to don't be selfish as now, so someone can really love you.
(ismymareydnm)
June, 24-2013
the date when i wanna try to forget about you :)
Harapan
Read User's Comments(0)
FINE
What? Diam tapi menusuk? kau sebut aku begitu.
Dari awal, pertama aku tahu kamu, aku juga gak begitu suka sama kamu. Mukamu memang nyebelin, gak pantas buat disapa. Tapi, aku masih belum begitu jelas mengenalmu, jadi aku mencoba untuk menyapamu. Ternyata, jawabanmu seperti itu. Apa kamu memang seperti itu?
I saw that "jerk" in first Semester 2. I dont know how he can be here or how i'll be one classroom with him. Aku tak menyangka kalau dia bisa bersamaku. Semuanya jaim. Saling tak sapa menyapa.
Ok kamu memang pintar. Sepertinya kamu selalu menganggap remeh pelajaran-pelajaran yang sudah kamu anggap mampu. Kamu itu sok, apalagi kalau sedang bersama-sama, kau melonjakkan suaramu, kesannya yaapa gitu.
Ok, aku tau kamu gak suka bergaul denganku. Satu-satunya orang yang tak ingin kau gauli adalah aku, maybe. Karena kau selalu menyindirku, mengejekku secara tak langsung. Kamu pikir kamu lucu hah? Gak usah belagu deh jadi orang. Seakan semua yang kamu katakan itu benar.
Apa masalahku sehingga kau seperti itu ha? Ok, FINE. Aku bersukur sekarang semester 2 sudah berakhir. Aku tak akan melihat wajahmu dan teman-temanmu yang"jerk" itu lagi.
Aku gak mikirin kamu sakit apa ndak, itu bukan urusanku. Itu semua bukan disengaja. Karena mungkin ini memang salahmu. Ok aku memang muna sekarang, baik diluar gak didalam. Tapi itu hanya buat kamu dan para teman-temanmu. Specially for you and another "jerk".
Kalau kamu memang gak suka aku, tak usah menghindariku. Aku yang akan menjauhimu. UNDERSTAND!
You know, i dont like you since we first met :@ My question, why the person like you have been here????!!
Akhirnya, The End Of Semester 2
Setelah melewati beberapa hari penuh keruwetan, akhirnya
ujian semester selesai sudah. Ketakutan yang hanya aku pikirkan ketika semua
nilaiku turun. Aku merasa down semester
2 ini. Kayak gak punya semangat belajar. Disamping moodboster ku ada di rumah
pamekasan, aku gak terlalu mood untuk belajar. Alhasil, beginilah aku. Mengapa
aku menjadi seperti ini?
Awal
semester 2 pun tiba. Awalnya aku memasuki kelasku, XG. Tiba-tiba orang-orang GJ
memanggilku untuk masuk ke kelas baru. Muales banget rasanya. Dengan berat hati
meninggalkan teman-temanku. Pertama kali masuk, ada anak-anak cowok. Tambah
muales banget. aku diam di kelas itu, tidak satupun kebahagiaan yang aku
dapatkan, bahkan kenangan yang manis menurut temanku, semuanya sama saja.
Mindset-ku
sudah terbentuk sejak SMP. Yang kelasnya sudah bersistem homogen. Sejak di smp
itulah, aku sudah tak tahu caranya bisa deket sama temen cowokku. Oleh karena
itu, aku dibilang cewek tercuek dan gak terasik di sekolah. Kebiasaanku, sampai
SMA pun tidak berubah. Awalnya seneng banget pas pertama masuk SMA, sistemnya
homogen, gak canggung-canggung sama anak cowok. Kalo sama anak cewek sih aku
biasa aja, malahan bisa lebih frontal. Kebiasaan burukku yang aku tampakkan ke
temen cewekku tidak aku tampakkan ke anak cowok. Semasa semester satu, tidak
ada satupun anak cowok se-angkatanku yang aku kenal. Disamping itu, aku membenci
cowok. Entah mengapa, aku juga tak mengerti bagaimana aku menciptakan mindset
seperti itu.
Walaupun
suasana kelas sudah tak secanggung dulu, semua anak kelas sudah tak canggung
lagi saat berbicara, tinggal aku saja yang tak seperti. Setiap ada yang
berbicara denganku, aku pasti tidak dihiraukannya. Akhirnya, sikap mereka
sekarang seperti sikapku dulu. Makasih kawan sudah membalasnya J.
Aku
lupa menyebutkan itu macam kelas apa. Itu kelas khusus anak pinter. Dan aku
salah alamat masuk ke dalamnya. Andai aku punya insting dari awal kalau
ternyata diriku sama sekali tidak pantas disini, aku gak akan pernah
menginginkan masuk ke kelas ini. Tipe mereka: tidak puas dengan nilai yang
masih bagus menurutku. Dapat 80 saja masih protes! Gak bersyukur! Sampai pernah
kusindir ada seorang anak yang mengatakan, “Aku yo males, tapi yaapa nanti
nilaiku”, aku membalasnya, “Iya males lek gak dapet 100!”, semuanya terdiam.
Entah mereka terdiam tidak menghiraukanku apa karena mereka tak bisa membalas
ucapanku.
Benar
kata abiku, aku ini orang yang orang lain harus takut kepadaku. Tapi aku tak
meniatkannya. Saat aku mengatakan sesuatu, aku tidak bermaksud untuk
menakutinya, hanya bermaksud menyadarinya. Tetapi mereka malah takut kepadaku.
OK FINE friends. Thanks atas penghormatannya.
Kawan,
tak apa kalian membenciku. Karena aku mengakui, aku ini muna. Baik di hadapan
kalian, padahal hatiku gak seperti itu, busuk kalau kalian ingin
menyebutkannya. Kalian memang pintar rek, tapi kalian juga harus melihat ke
bawah. Sekecil-kecilnya nilai kalian, itu sangat berharga bagi orang lain.
Kalau memang menurut kalian nilai itu tidak sesuai dengan perjuangan kalian, ya
sudah, terima saja. Itu sudah terserah Allah. Kalian gak tau,nilai anak lain
seperti apa?
Yang
paling jembrak menurutku ketika salah satu temanku, dia puinter. Selalu
mendapat nilai bagus dan berkata “Aku gak pantes disini rek, nilaiku lo jadi
jelek-jelek”, MTK dapet 100, selalu dapat nilaii rata-rata 9 masih dibilang
jelek! Dasar orang gak bersyukur. Gak usah alay mbak. Kapan kamu bisa
bersyukur. Rata-rata nilaiku 8 saja aku sudah sujud syukur. Wes, itu yang
tambah membuatku gak betah. Sekumpulan orang-orang haus nilai. Jembrak.
Apalagi
anak cowoknya. Selfish, always think about her activities that’s not so
important. Apabila dikasih tugas, gak dikerjain lah, belum ngumpulkan lah,
whatever. Itu sudah bukan urusanku.
Daripada
aku selalu suudzon sama kalian rek, aku lebih baik keluar dari kelas itu. Itu
bukan tempat yang tepat untukku. Aku seorang ayam, gak pantes di kandang
anjing. Aku bukan orang yang terobsesi dengan nilai. Aku hanya menuntut ilmu
memberantas kebodohan saja. Otakku gak semampu otak kalian. Aku seperti anak
lainnya dibawah kalian. Aku tau kalian tak suka aku karena otakku lemot. Salah
satu dari kalian pernah memarahiku gara-gara aku tidak berpikir cepat. Maaf,
aku gak kayak kamu! Aku yakin, kamu pasti lebih senang kalau aku keluar dari
lingkungan itu. Buktinya, aku berbicara yang tidak serius saja, gak
diperhatikan. Bahkan orang yang dekat denganku. Tapi perkataan kalian
mengharuskan aku untuk mendengarnya. Kalian lebih memilih bergaul dengan orang
pintar, se-level kalian. Maka dari itu mungkin kalian tak suka denganku. Buat
yang anak cowok, yang selalu gak merhatikan aku, makasih atas semuanya. Makasih
banyak rek, sudah buat aku sadar atas kelakuan kalian terhadapku. Aku menyadari
bahwa aku useless di kelas itu. Makasih juga atas semua waktunya. Aku
benar-benar tak mengharapkan bisa bergabung dengan kalian lagi.
Ya
Allah, jika kau sayang pada hambamu yang hina ini, janganlah masukkan hamba
pada tempat yang tinggi menurut hamba. Letakkanlah hamba pada tempat dibawah
mereka yang lebih pantas buat hamba. Sebab disanalah mungkin hamba menemukan
kebahagiaan hidup. Tidak tertekan. Maafkan hamba juga, sudah memilih kelas itu.
Itu ada salah satu kesalahan terbesar hamba dalam hidup hamba. Tolonglah hamba,
Ya Allah. Amin.
THANKS TO THE PEOPLE WHO HURT ME, WHO IGNORED ME. THANKS FOR
ALL. I HOPE, I CAN’T SEE YOUR FACE, AGAIN :)
Langganan:
Postingan (Atom)





